Revolutionary Energy Sources

By W. Wayt Gibbs

To keep this world tolerable for life as we like it, humanity must complete a marathon of technological change whose finish line lies far over the horizon. Robert H. Socolow and Stephen W. Pacala of Princeton University have compared the feat to a multigenerational relay race. They outline a strategy to win the first 50-year leg by reining back carbon dioxide emissions from a century of unbridled acceleration. Existing technologies, applied both wisely and promptly, should carry us to this first milestone without trampling the global economy. That is a sound plan A.

The plan is far from foolproof, however. It depends on societies ramping up an array of carbon-reducing practices to form seven “wedges,” each of which keeps 25 billion tons of carbon in the ground and out of the air. Any slow starts or early plateaus will pull us off track. And some scientists worry that stabilizing greenhouse gas emissions will require up to 18 wedges by 2056, not the seven that Socolow and Pacala forecast in their most widely cited model.

It is a mistake to assume that carbon releases will rise more slowly than will economic output and energy use, argues Martin I. Hoffert, a physicist at New York University. As oil and gas prices rise, he notes, the energy industry is “recarbonizing” by turning back to coal. “About 850 coal-fired power plants are slated to be built by the U.S., China and India—none of which signed the Kyoto Protocol,” Hoffert says. “By 2012 the emissions of those plants will overwhelm Kyoto reductions by a factor of five.”

Even if plan A works and the teenagers of today complete the first leg of the relay by the time they retire, the race will be but half won. The baton will then pass in 2056 to a new generation for the next and possibly harder part of the marathon: cutting the rate of CO2 emissions in half by 2106.

Sooner or later the world is thus going to need a plan B: one or more fundamentally new technologies that together can supply 10 to 30 terawatts without belching a single ton of carbon dioxide. Energy buffs have been kicking around many such wild ideas since the 1960s. It is time to get serious about them. “If we don’t start now building the infrastructure for a revolutionary change in the energy system,” Hoffert warns, “we’ll never be able to do it in time.”

But what to build? The survey that follows sizes up some of the most promising options, as well as a couple that are popular yet implausible. None of them is a sure thing. But from one of these ideas might emerge a new engine of human civilization.

Kesadaran Calon Anggota Legislatif Memikirkan Idealisasi Energy Indonesia

Semua persiapan pelaksanaan pesta demokrasi semakin sempurna, dan tidak lama lagi, pesta itu segera dilaksanakan. Masyarakat luas akan berdatangan ke bilik suara dan akan memilih secara rahasia, dan bebas calon anggota legislative (caleg) sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif. Tentu saja masyarakat luas saat ini sudah cerdas, dan dapat memastikan pilihannya dengan tepat. Barangkali pertimbangan penting bagi pemilih adalah factor kesejahteraan. Artinya, pilihan akan tertuju kepada caleg yang bisa memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Sampai sejauh ini, kesejahteraan sangat berhubungan erat dengan energy. Pengalaman yang sudah-sudah, telah memberi pelajaran berarti kepada bangsa ini, bahwa ketika terjadi kelangkaan energy di tingkat global, maka imbasnya terasa pada level akar rumput. Kelangkaan energy berbasis minyak bumi dunia memaksa negara ini menaikan harga bahan bakar berbasis minyak fosil di area domestic.
Banyak orang berpikir bahwa stok energy terbatas, dan terus menerus berpikir seperti itu. Kelangkaan bahan bakar minyak pun terlihat semakin menipis. Mengapa? Tahun demi tahun, minyak bumi harus terus digali, ditambang hanya semata-mata untuk memenuhi keperluan energy. Pada konteks ini berarti pasokan energy haruslah ada dan terus menerus ada, sehingga kesetabilan pada segmen kehidupan lain dapat terjaga serta aman. Ketika harga bensin yang sudah menurun hingga terendah di tingkat retail, cukup memberikan pengharapan akan aktifitas bisnis yang lebih memadai. Namun, keadaan ini belumlah menyelesaikan masalah nasional tentang energy.
Adapun demikian, harga BBM yang berkisar di Rp 4.500 untuk bensin di tingkat retail sudah cukup membuat lega. Tentu saja ini layak disyukuri mengingat turunnya harga bahan bakar minyak sudah meringankan cost margin masyarakat banyak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ini merupakan kondisi ideal dari bangsa ini tentang penyediaan energy? Tentu saja tidak. Apakah kondisi ideal energy nasional ini diukur dengan harga bahan bakar minyak yang rendah? Tentu saja tidak. Nah, kondisi ideal ini perlu dipaparkan di sini sebagai satu bentuk kesadaran untuk segera memikirkan jalan keluar yang diperlukan guna mewujudkannya.
Pertama, Idealisasi energy dalam konteks ini adalah membuat sebuah gambaran tentang bagaimana desain energy berbasis SDA yang benar-benar efisien telah meresab dan merembes penggunaannya di tengah masyarakat. Iptek telah banyak memberitahukan tentang kondisi ideal tentang energy di masa mendatang, di mana setiap orang menggunakan tehnologi paling modern dengan menggunakan desain energy yang sangat efisen.
Di Negara-negara maju, para ilmuan yang telah menemukan banyak hal tentang rekayasa energy yang dapat digunakan untuk kepentingan industry dan rumah tangga. Sedangkan bahan bakar transportasi adalah hydrogen dan methanol yang cukup murah produksinya dan daya jualnya diperkiraan sangat murah pula. Tehnologi ini adalah teknologi energy terbarukan dari sector teknologi fuel cell yang sampai saat ini dinegara-negara maju terus dikembangkan, dan dikembangkan untuk mewujudkan kesempurnaan teknologinya. Sedangkan bahan bakar hydrogen dan methanol pembuatannya tanpa materi berbasis minyak bumi, tetapi menggunakan material energy terbarukan. Inilah nantinya yang membuat semuanya serba efisien. Mengapa ini energy yang ideal? Kita bisa melihat perkembangan penggunaan hydrogen dan methanol semakin tahun semakin tinggi, dan percepatannya pun beranjak lebih tinggi penggunaannya dari minyak fosil.
Ada beberapa tahapan idealisasi penghasil listrik dan bahan bakar alternative. Generasi pertama yaitu Minyak dan Gas bumi, generasi kedua adalah Batubara, Panasbumi dan Uranium/thorium. Generasi ke tiga yaitu Angin, Hidro /Air, gelombang samudera, pertanian dalam arti luas dan sinar matahari, dan generasi ke empat Photolisis, biohidrogen. Berdasarkan runtutan ini, sangalah diperlukan pemahaman akan pengelolaan yang lebih bijaksana dalam pengembangan energy. Mengingat rute pertama pengelolaan energy selalu menggunakan minyak fosil, maka perlu alternative untuk segera masuk ke rute ke dua dan pada akhirnya meninggalkan secara menyeluruh pemanfaatan minyak fosil. Sementara itu, minyak fosil yang ada perlu diarahkan untuk keperluan industry petrokimia. Pada saat transisi sudah terjadi model baru pengelolaan energy mengacu pada desain teknologi penghasil listrik, teknologi penghasil bahan bakar alternative dan teknologi penggunanya serta desain teknologi infra struktur skuriti energi.
Untuk sampai pada generasi selanjutan, tentu saja membutuhkan partisipasi pihak-pihak yang berkompeten. Lalu, siapa saja yang perlu dilibatkan dalam pengembangan energy ini? Policy maker, akademisi, industry, dan pemerhati competency dan investor. Berbagai pihak ini dapat dengan serius bekerjasama membuat satu langkah maju untuk mewujudkan transisi energy menuju generasi ke dua. Dalam hubungannya dengan kesadaran politik, caleg diharapkan mengerti akan keberadaan energy sebagai satu keperluan nasional yang penting, sehingg perlu penyegeraan sebuah perangkat yang diperlukan untuk itu. Sebelum terpilih sebagai wakil rakyat di lembaga legislative, tentu saja perlu memahami peta jalan energy saat ini, dan memahami idealisasi energy yang akan terjadi di masa mendatang. Artinya, caleg haruslah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang energy di masa mendatang. Berbekal pengetahuan inilah perumusan kebijakan negara atau payung hukum terkait dengan enegi dapat mengarah pada laju pengembangan tehnologi penghasil energy terkini dapat terealisasi dengan baik. Konsekwensi logis dari alur ini adalah bahwa caleg tidak semata-mata bekerja untuk mengegolkan diri menjadi anggota legislative, tetapi, juga harus mulai menyerap berbagai pengetahuan yang memadai akan energy guna melakukan langkah-langkah praktis manakala terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif.

Political Energy Conversion


Political Energy Conversion: Konsisten Memburu Energi Alternatif

Pengalaman tahun tahun yang silam telah membuktikan bahwa kenaikan harga BBM, praktis berimbas terhadap hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Apalagi terhadap persoalan ekonomi bangsa ini, terasa sekali. Ini logis, karena praktis kegiatan ekonomi menjadi lebih mahal ongkosnya dan tidak menentu. Ekplorasi migas bumi yang sebegitu intens mengakibatkan stok yang semakin sedikit jumlahnya, karena bahan bakar ini bukanlah bahan terbarukan. Yang jelas, permintaan akan jumlah migas dunia akan naik terus dikarenakan industri-industri kimia sangat memerlukannya untuk berbagai produk, termasuk industry reforming dunia yang berkembang pesat. Tidak ada kata lain, kecuali akan naik harganya karna akan habis walaupun itu secara perlahan dan tidak sama dengan loncotan permintaan migas bumi. Dalam konteks ini, berbagai solusi sudah direncanakan dan dilakukan pemerintah untuk jangka pendek misalnya konversi bahan bakar minyak tanah menjadi bahan bakar gas bumi (elpiji) untuk menghemat subsidi dan sekaligus menjamin kelangsungan kegiatan ekonomi masyarakat di berbagai sektor. Perlu diketahui walaupun gas elpiji ini merupakan alternative yang sangat memungkinkan sekarang ini tetapi gas ini katagori bahan bakar tidak terbarukan. Artinya ketahanan penyediaan energy dari sisi gas elpiji pun perlu diantisipasi ketersediaannya apakah mampu bertahan sebagai bahan bakar untuk jangka menengah dan panjang ?. Kalau tidak, setelah itu apa lagi yang akan terjadi? Apa solusi yang harus dilakukan kedepan agar tetap pada koridor berkeadilan sesuai UU energi yang telah dibuat pemerintah. Pandangan yang sangat strategik kedepan ini masih relevan melakukan “gerakan penyediaan energi alternative terbarukan“ sesuai dengan peta jalan energi skuriti dunia. Adapun, status bahan bakar saat ini dan konversi bahan bakar cair ke bahan bakar gas elpiji dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat membangun paradikma konversi konsumsi bahan bakar dari berbasis migas bumi kepada bahan bakar alternatif terbarukan. Pada kenyataannya, konsep ini sudah terbukti mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan migas bumi di negara negara maju. Inilah yang seharusnya dikembangkan di Indonesia dengan mana Indonesia memiliki sumber bahan bakar alternatif yang melimpah dan sangat potensial untuk mengatasi persoalan energi nasional. Jadi, dalam hal ini konsistensi percepatan pemanfaatan sumber daya energi alternatif menjadi solusi konversi energy yang pasti bukan?. Memang persoalan yang urgen yang perlu dipertimbangkan pada pengelolaan energi alternatif terbarukan, sudah terjadi persaingan dan terus berlangsung hingga hari ini terutama di negara-negara maju, seperti Amerika, Eropah, bahkan Cina dan sebagian negara-negara di Amerika Latin. Persaingan yang sangat tampak lebih condong kepada persaingan teknologinya. Menguasai teknologi energi alternatif terbarukan merupakan target yang harus dicapai oleh negara, terutama sekali untuk proteksi keamanan konversi energi berbasis migas bumi menuju energi alternatif terbarukan. Hal ini juga menjadi pelajaran kedepan untuk memulai melihat peta dunia tentang pengelolaan energi alternatif dan sekaligus pengembangan teknologi yang dapat dioperasikan dengan energi alternatif. Langkah praktis yang bisa ditempuh tentu saja harus secara konsisten mengembangkan teknologi energi alternatif itu sendiri, baik untuk teknologi penghasil bahan bakarnya maupun alat pengguna bahan bakar.
Indonesia sebagai negara yang memiliki SDA yang berlimpah, perlu segera menggarap konteks ini. Konsistensi mengerjakan penciptaan tehnologi sangat diperlukan dengan tidak melupakan pengelolaan yang berkeadilan, berkelanjutan dan terpadu serta berwawasan ramah lingkungan. Mengapa hal ini perlu disegerakan? Sultan Hemangkubuwana X ketika memberi makalah pada ketahanan energi di UPN ”Veteran” Yogyakarta, mengatakan bahwa berkurangnya sumber energi fosil harus bisa mendorong penggunaan energi alternatif lainnya yang bersifat massal, murah dan aman. Beliau menambahkan keperluan energi alternative sangatlah besar tidak dapat ditunda tunda. Target kebutuhan energy, secara rata rata hampir 60% energy pada sector transportasi. Pemenuhan keperluan bahan bakar yang sangat besar ini memerlukan waktu konversi yang lama karena pengadaan teknologi dan penerapannya seperti, modifikasi mesin bakar dan Fuel cell untuk menggantikan bahan bakar migas sampai 100% dengan bahan bakar alternative terbarukan.
Pada masa transisi dari penggunaan bahan bakar migas bumi kepada penggunakan bahan bakar alternatif, pemerintah melakukan prinsip konversi minyak tanah menjadi gas mungkin pengendalian dari stok yang menjadi pertimbangan utama sedangkan harganya tetap mengikuti penurunan harga migas bumi seperti halnya premium dan solar. Kalau harga minyak tanah lebih tinggi dari premium dan solar nampaknya kurang sesuai. Mengapa demikian?, kalau dulu terdengar dieceran minyak tanah dicampur dengan bensin sebelum dijual. Sekarang bisa terjadi bensin dicampur minyak tanah untuk keperluan masak atau bensin dicampur solar untuk menggati minyak tanah keperluan dapur karena lebih murah. Jadi dapat terjadi persoalan lain yang ujungnya pemerintah mengeluarkan biaya untuk pengendaliannya. Selain itu prinsip efisiensi, karena tingkat biaya produksi bahan bakar minyak dan gas bumi nampaknya sangatlah besar. Pemerintah seyogyanya konsisten memberi perhatian yang sangat khusus pada sektor ini. Pasalnya, bahan baku (cude oil) diimport dari beberapa negara. Cude oil tersebut diproses di Indonesia memakai kilang-kilang yang kebanyakan sudah tua, sehingga tingkat resikonya menjadi tinggi. Selain itu, kualitas cude oil sekarang ini tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sudah tua, tentu kos produksinya tinggi dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM, maka resikonya sangat besar. Dalam hal ini, diperkirakan tenaga yang diperlukan untuk pengilangan BBM akan lebih besar berbanding tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif. Jika seandainya pemerintah mempertahankan jalur ini, peluang Indonesia sangat kecil untuk membangun cadangan penyangga energi baik dari segi jenis, jumlah, waktu, dan lokasi cadangan penyangga energi. Harga energi alternatif sulit menentukan nilai keekonomian yang terjangkau dan berkeadilan. Sebaliknya jika, mempertahankan keseriusan untuk membangun teknologi penghasil bahan bakar alternatif, modifikasi mesin transportasi dan pengembangan SPBU BBM menjadi SPBU BBA dan hal ini dilakukan sedini mungkin, maka krisis energi yang mungkin muncul di masa mendatang dapat ditangkis. Sumber : Bernas

Political Energy Conversion

Trobosan Mengganti BBM Dengan Bahan Bakar Lebih Murah

Trobosan Mengganti BBM Dengan Bahan Bakar Lebih Murah
Oleh : Ramli Sitanggang

Kenaikan BBM, itu sudah terjadi. Persoalan selanjutnya, adalah mencari dan menemukan teknologi pengganti mesin BBM. Ini perlu disegerakan, sebab jumlah minyak bumi makin menipis. Mau tidak mau, harus ada trobosan baru. Terobosan yang cerdas.

Marcedes menggunakan gas Hidrogen yang berasal dari air.

Semua kegiatan hampir selalu berbasis energi BBM. Meskipun ada basis lainnya seperti jalan kaki, batubara dan nuklir, misalnya. Tidaklah mengherankan, bahwa harga BBM ini terus menerus menaik saja. Para pakar sudah tau hal ini. Itu betul adanya, karena minyak fosil habis disedot. Pada saat yang sama, hukum permintaan berlaku. Ini wajar. Coba bayangkan, permintaan semakin tinggi dan stok minyak fosil semakin habis, maka apa yang terjadi? Lonjakan harga tak terelakan.

Masihkah sektor BBM ini tetap menjadi basis utama bahan bakar nasional di tahun-tahun berikutnya? Jawabnya jelas, yaitu “Tidak”. Bertumpu pada BBM sebagai basis utama, jelas tidak efisien. Ini tampak seperti halnya seekor ikan terjun bebas ke daratan. Suatu saat akan mengalami kemandegan distribusi BBM.
Langkah awal trobosan ini adalah pengadaan teknologi energy alternatif. Ini penting. Ini harus dilakukan seperti halnya mengembalikan ikan masuk ke dalam air lagi. Kenaikan BBM kali ini, adalah momentum tepat pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif.

Idenya begini. Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar alternatif, dan ke dua, teknologi energi dengan bahan bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan. Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM. Ini berarti “pengadaan teknologi itu”.

Karena kondisi ini bukan hanya untuk Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus segera diadakan dengan perhitungan super cermat.

Berdasarkan dari beberapa negara Eropah dan Amerika yang sudah membuat jalur roadmap energy 2010-2030 penyediaan bahan bakar transportasi pada jangka menegah Indonesia yang sangat praktis dan applikatif adalah peningkatan kapasitas tenaga pembangkit listrik untuk tenaga pengilangan metanol dan hidrogen dari air seperti halnya juga proses pengilangan BBM memerlukan tenaga listrik pada jangka menengah. Dalam hal ini diperkirakan tenaga yang diperlukan untuk pengilangan BBM yang sekarang ini akan lebih besar berbanding tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif metanol dan Hidrogen. Tentu dari sisi ini, bahan bakar akan lebih murah dari BBM sekarang ini. Selain itu bahan bakar ini pada harga yang sama dengan BBM maka jarak tempuhnya lebih jauh. Artinya, penyediaan bahan bakar alternatif jenis methanol dan hidrogen ini jauh lebih murah sehingga menjadi solusi yang ideal di indonesia. Alasan yang sangat kuat untuk mendukungnya sebagai opsi pengganti BBM bahwa masa sekarang kebutuhan BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari merupakan jumlah yang terlalu banyak dan mahal untuk mesin mesin transportasi. Alasan kedua, permintaan minyak fosil untuk industry kimia semakin meningkat dipasar global dan hal ini terjadi sampai minyak bumi menipis. Tentu, permainan protection global Negara maju terhadap minyak fosil akan semakin seru dan secara otomatis pula akan diikuti proteksi terhadap teknologi bahan bakar alternatif seperti yang dilakukan Amerika, Eropah, Cina dan bahkan sebagian negara-negara di Amerika Latin. Ini sangat logis sebab metode ini masih cukup cerdas meraup dolar dan patut diwaspadai mulai sekarang dengan gerakan ketahanan energy seperti yang dilakukan UPN Veteran Yogyakarta akhir akhir ini. Alasan yang ketiga tentunya Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi SDA yang sangat berlimpah untuk bahan bakar alternatif sedini mungkin dapat mengambil inisitif menjadi produsen bahan bakar alternatif di dunia internasional dalam masa jangka menengah dan panjang. Hal ini sudah sukses dilakukan Canada mengeksport Hidrogennya ke Amerika, eropah dan Jepang. Adalagi alasan yang paling menarik yaitu ikatan kerjasama yang sangat kuat dari 120 negara yang berpusat di inggris untuk melakukan pengembangan energI alternatif terutama hydrogen yang memacu negara maju untuk segera membuat infrastrukturnya. Dengan demikian, mau tak mau Indonesia harus mengikutinya untuk memasang kuda kuda yang kuat. Lebih lanjut lagi, peralihan energi jangka menengah ini kearah jangka panjang sampai tahun 2030, fenomena negara negara maju membangun teknologi penghasil bahan bakar alternatif Hidrogen berbasis nuklir sudah cukup jelas. Konsepnya sangat sederhana, energi listrik yang melimpah dengan harga murah digunakan untuk pembuatan bahan bakar alternatif hidrogen dari air. Tentu saja hidrogen ini sangat murah. Sedangkan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan energi dari gas Hidrogen ini dengan modifikasi teknologi mesin BBM menjadi mesin LPG diteruskan menjadi mesin Hidrogen atau dengan teknologi Fuel Cell (sel bahan bakar). Dalam hal ini, jangan dibayangkan Hidrogen berbahaya seperti bom hidrogen sebab dari segi resiko kebakaran lebih besar resikonya BBM dan LPG. Selain itu tidak ada polusi, mesin hydrogen atau sel bahan bakar hanya mengahasilkan air kembali. Khusus untuk sel bahan bakar, air yang dihasilkan tidak mengandung mineral yang dapat ditampung untuk keperluan membuat hydrogen.

Teknologi Fuel Cell menggunakan gas hidrogen (sel bahan bakar)

Adapun SEL BAHAN BAKAR (Fuel Cell) adalah teknologi Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar alternatif. Cirinya seperti baterai, perbedaannya kalau baterai menggunakan listrik tetapi untuk SEL BAHAN BAKAR menggunakan gas Hydrogen atau Metanol dengan udara. Teknologi Fuel Cell sebagai pembangkit listrik ada 4 kelompok besar iaitu teknologi pertama menggunakan gas hidrogen yang biasanya untuk mengganti mesin bus, mobil, motor, dan sebagainya. Teknologi kedua menggunakan metanol yang lajim untuk pembangkit tenaga listrik kecil seperti mainan anak anak, handphone, laptop dan sebagainya. Kemudian Teknologi ketiga yaitu teknologi pembangkit listrik dengan ukuran mikro watt yang digunakan untuk alat-alat sensor. Sedangkan teknologi ke empat menggunakan gas hidrogen untuk pembangkit listrik dengan kapasitas besar misalnya 10 MW dan seterusnya. Di Asean teknologi ini sudah mulai pesat perkembangnya walaupun masih mahal karena masih pada peringkat prestise dan permainan harga material tetapi dengan penguasaan teknologi ini di jepang, cina dan korea lambat laun proteksi teknologi ini dari negara amerika dan eropah akan memperhitungkannya, sayang 1000 kali sayang di Indonesia baru beberapa orang pakar untuk teknologi ini. Padahal ini teknologi alternatif yang tidak dapat dibendung kehadirannya. Bahkan dinegara jiran sudah diperkenalkan dalam bentuk mobil dan berbagai produk termasuk Stasiun pengisian Hidrogen (Bahan bakar gas hidrogen yang berasal dari air) yang sangat mirip dengan SPBU (lihat gambar teratas). Coba rasakan, betapa hebatnya berkendaran mobil dengan bahan bakar yang murah ini. Orang akan bebas perasaan dari kekawatiran kanaikan 28,7 % BBM.

Sumber : Info Kampus "UPN" Veteran

Political Energy Conversion


Konsisten Memburu Energi Alternatif

oleh : Ramli Sitanggang

Pengalaman tahun tahun yang silam telah membuktikan bahwa kenaikan harga BBM, praktis berimbas terhadap hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Apalagi terhadap persoalan ekonomi bangsa ini, terasa sekali. Ini logis, karena praktis kegiatan ekonomi menjadi lebih mahal ongkosnya dan tidak menentu. Ekplorasi migas bumi yang sebegitu intens mengakibatkan stok yang semakin sedikit jumlahnya, karena bahan bakar ini bukanlah bahan terbarukan. Yang jelas, permintaan akan jumlah migas dunia akan naik terus dikarenakan industri-industri kimia sangat memerlukannya untuk berbagai produk, termasuk industry reforming dunia yang berkembang pesat. Tidak ada kata lain, kecuali akan naik harganya karna akan habis walaupun itu secara perlahan dan tidak sama dengan loncotan permintaan migas bumi. Dalam konteks ini, berbagai solusi sudah direncanakan dan dilakukan pemerintah untuk jangka pendek misalnya konversi bahan bakar minyak tanah menjadi bahan bakar gas bumi (elpiji) untuk menghemat subsidi dan sekaligus menjamin kelangsungan kegiatan ekonomi masyarakat di berbagai sektor.

Perlu diketahui walaupun gas elpiji ini merupakan alternative yang sangat memungkinkan sekarang ini tetapi gas ini katagori bahan bakar tidak terbarukan. Artinya ketahanan penyediaan energy dari sisi gas elpiji pun perlu diantisipasi ketersediaannya apakah mampu bertahan sebagai bahan bakar untuk jangka menengah dan panjang ?. Kalau tidak, setelah itu apa lagi yang akan terjadi? Apa solusi yang harus dilakukan kedepan agar tetap pada koridor berkeadilan sesuai UU energi yang telah dibuat pemerintah. Pandangan yang sangat strategik kedepan ini masih relevan melakukan “gerakan penyediaan energi alternative terbarukan“ sesuai dengan peta jalan energi skuriti dunia. Adapun, status bahan bakar saat ini dan konversi bahan bakar cair ke bahan bakar gas elpiji dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat membangun paradikma konversi konsumsi bahan bakar dari berbasis migas bumi kepada bahan bakar alternatif terbarukan. Pada kenyataannya, konsep ini sudah terbukti mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan migas bumi di negara negara maju. Inilah yang seharusnya dikembangkan di Indonesia dengan mana Indonesia memiliki sumber bahan bakar alternatif yang melimpah dan sangat potensial untuk mengatasi persoalan energi nasional. Jadi, dalam hal ini konsistensi percepatan pemanfaatan sumber daya energi alternatif menjadi solusi konversi energy yang pasti bukan?. Memang persoalan yang urgen yang perlu dipertimbangkan pada pengelolaan energi alternatif terbarukan, sudah terjadi persaingan dan terus berlangsung hingga hari ini terutama di negara-negara maju, seperti Amerika, Eropah, bahkan Cina dan sebagian negara-negara di Amerika Latin. Persaingan yang sangat tampak lebih condong kepada persaingan teknologinya. Menguasai teknologi energi alternatif terbarukan merupakan target yang harus dicapai oleh negara, terutama sekali untuk proteksi keamanan konversi energi berbasis migas bumi menuju energi alternatif terbarukan. Hal ini juga menjadi pelajaran kedepan untuk memulai melihat peta dunia tentang pengelolaan energi alternatif dan sekaligus pengembangan teknologi yang dapat dioperasikan dengan energi alternatif. Langkah praktis yang bisa ditempuh tentu saja harus secara konsisten mengembangkan teknologi energi alternatif itu sendiri, baik untuk teknologi penghasil bahan bakarnya maupun alat pengguna bahan bakar.

Indonesia sebagai negara yang memiliki SDA yang berlimpah, perlu segera menggarap konteks ini. Konsistensi mengerjakan penciptaan tehnologi sangat diperlukan dengan tidak melupakan pengelolaan yang berkeadilan, berkelanjutan dan terpadu serta berwawasan ramah lingkungan. Mengapa hal ini perlu disegerakan? Sultan Hemangkubuwana X ketika memberi makalah pada ketahanan energi di UPN ”Veteran” Yogyakarta, mengatakan bahwa berkurangnya sumber energi fosil harus bisa mendorong penggunaan energi alternatif lainnya yang bersifat massal, murah dan aman. Beliau menambahkan keperluan energi alternative sangatlah besar tidak dapat ditunda tunda. Target kebutuhan energy, secara rata rata hampir 60% energy pada sector transportasi. Pemenuhan keperluan bahan bakar yang sangat besar ini memerlukan waktu konversi yang lama karena pengadaan teknologi dan penerapannya seperti, modifikasi mesin bakar dan Fuel cell untuk menggantikan bahan bakar migas sampai 100% dengan bahan bakar alternative terbarukan.

Pada masa transisi dari penggunaan bahan bakar migas bumi kepada penggunakan bahan bakar alternatif, pemerintah melakukan prinsip konversi minyak tanah menjadi gas mungkin pengendalian dari stok yang menjadi pertimbangan utama sedangkan harganya tetap mengikuti penurunan harga migas bumi seperti halnya premium dan solar. Kalau harga minyak tanah lebih tinggi dari premium dan solar nampaknya kurang sesuai. Mengapa demikian?, kalau dulu terdengar dieceran minyak tanah dicampur dengan bensin sebelum dijual. Sekarang bisa terjadi bensin dicampur minyak tanah untuk keperluan masak atau bensin dicampur solar untuk menggati minyak tanah keperluan dapur karena lebih murah. Jadi dapat terjadi persoalan lain yang ujungnya pemerintah mengeluarkan biaya untuk pengendaliannya. Selain itu prinsip efisiensi, karena tingkat biaya produksi bahan bakar minyak dan gas bumi nampaknya sangatlah besar. Pemerintah seyogyanya konsisten memberi perhatian yang sangat khusus pada sektor ini. Pasalnya, bahan baku (cude oil) diimport dari beberapa negara. Cude oil tersebut diproses di Indonesia memakai kilang-kilang yang kebanyakan sudah tua, sehingga tingkat resikonya menjadi tinggi. Selain itu, kualitas cude oil sekarang ini tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sudah tua, tentu kos produksinya tinggi dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM, maka resikonya sangat besar. Dalam hal ini, diperkirakan tenaga yang diperlukan untuk pengilangan BBM akan lebih besar berbanding tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif. Jika seandainya pemerintah mempertahankan jalur ini, peluang Indonesia sangat kecil untuk membangun cadangan penyangga energi baik dari segi jenis, jumlah, waktu, dan lokasi cadangan penyangga energi. Harga energi alternatif sulit menentukan nilai keekonomian yang terjangkau dan berkeadilan. Sebaliknya jika, mempertahankan keseriusan untuk membangun teknologi penghasil bahan bakar alternatif, modifikasi mesin transportasi dan pengembangan SPBU BBM menjadi SPBU BBA dan hal ini dilakukan sedini mungkin, maka krisis energi yang mungkin muncul di masa mendatang dapat ditangkis. Sumber : Harian Bernas


Political Energy Conversion


Kesadaran Calon Anggota Legislatif Memikirkan Idealisasi Energy Indonesia

Oleh : Ramli Sitanggang


Semua persiapan pelaksanaan pesta demokrasi semakin sempurna, dan tidak lama lagi, pesta itu segera dilaksanakan. Masyarakat luas akan berdatangan ke bilik suara dan akan memilih secara rahasia, dan bebas calon anggota legislative (caleg) sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif. Tentu saja masyarakat luas saat ini sudah cerdas, dan dapat memastikan pilihannya dengan tepat. Barangkali pertimbangan penting bagi pemilih adalah factor kesejahteraan. Artinya, pilihan akan tertuju kepada caleg yang bisa memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Sampai sejauh ini, kesejahteraan sangat berhubungan erat dengan energy. Pengalaman yang sudah-sudah, telah memberi pelajaran berarti kepada bangsa ini, bahwa ketika terjadi kelangkaan energy di tingkat global, maka imbasnya terasa pada level akar rumput. Kelangkaan energy berbasis minyak bumi dunia memaksa negara ini menaikan harga bahan bakar berbasis minyak fosil di area domestic.
Banyak orang berpikir bahwa stok energy terbatas, dan terus menerus berpikir seperti itu. Kelangkaan bahan bakar minyak pun terlihat semakin menipis. Mengapa? Tahun demi tahun, minyak bumi harus terus digali, ditambang hanya semata-mata untuk memenuhi keperluan energy. Pada konteks ini berarti pasokan energy haruslah ada dan terus menerus ada, sehingga kesetabilan pada segmen kehidupan lain dapat terjaga serta aman. Ketika harga bensin yang sudah menurun hingga terendah di tingkat retail, cukup memberikan pengharapan akan aktifitas bisnis yang lebih memadai. Namun, keadaan ini belumlah menyelesaikan masalah nasional tentang energy.
Adapun demikian, harga BBM yang berkisar di Rp 4.500 untuk bensin di tingkat retail sudah cukup membuat lega. Tentu saja ini layak disyukuri mengingat turunnya harga bahan bakar minyak sudah meringankan cost margin masyarakat banyak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ini merupakan kondisi ideal dari bangsa ini tentang penyediaan energy? Tentu saja tidak. Apakah kondisi ideal energy nasional ini diukur dengan harga bahan bakar minyak yang rendah? Tentu saja tidak. Nah, kondisi ideal ini perlu dipaparkan di sini sebagai satu bentuk kesadaran untuk segera memikirkan jalan keluar yang diperlukan guna mewujudkannya.
Pertama, Idealisasi energy dalam konteks ini adalah membuat sebuah gambaran tentang bagaimana desain energy berbasis SDA yang benar-benar efisien telah meresab dan merembes penggunaannya di tengah masyarakat. Iptek telah banyak memberitahukan tentang kondisi ideal tentang energy di masa mendatang, di mana setiap orang menggunakan tehnologi paling modern dengan menggunakan desain energy yang sangat efisen.
Di Negara-negara maju, para ilmuan yang telah menemukan banyak hal tentang rekayasa energy yang dapat digunakan untuk kepentingan industry dan rumah tangga. Sedangkan bahan bakar transportasi adalah hydrogen dan methanol yang cukup murah produksinya dan daya jualnya diperkiraan sangat murah pula. Tehnologi ini adalah teknologi energy terbarukan dari sector teknologi fuel cell yang sampai saat ini dinegara-negara maju terus dikembangkan, dan dikembangkan untuk mewujudkan kesempurnaan teknologinya. Sedangkan bahan bakar hydrogen dan methanol pembuatannya tanpa materi berbasis minyak bumi, tetapi menggunakan material energy terbarukan. Inilah nantinya yang membuat semuanya serba efisien. Mengapa ini energy yang ideal? Kita bisa melihat perkembangan penggunaan hydrogen dan methanol semakin tahun semakin tinggi, dan percepatannya pun beranjak lebih tinggi penggunaannya dari minyak fosil.
Ada beberapa tahapan idealisasi penghasil listrik dan bahan bakar alternative. Generasi pertama yaitu Minyak dan Gas bumi, generasi kedua adalah Batubara, Panasbumi dan Uranium/thorium. Generasi ke tiga yaitu Angin, Hidro /Air, gelombang samudera, pertanian dalam arti luas dan sinar matahari, dan generasi ke empat Photolisis, biohidrogen. Berdasarkan runtutan ini, sangalah diperlukan pemahaman akan pengelolaan yang lebih bijaksana dalam pengembangan energy. Mengingat rute pertama pengelolaan energy selalu menggunakan minyak fosil, maka perlu alternative untuk segera masuk ke rute ke dua dan pada akhirnya meninggalkan secara menyeluruh pemanfaatan minyak fosil. Sementara itu, minyak fosil yang ada perlu diarahkan untuk keperluan industry petrokimia. Pada saat transisi sudah terjadi model baru pengelolaan energy mengacu pada desain teknologi penghasil listrik, teknologi penghasil bahan bakar alternative dan teknologi penggunanya serta desain teknologi infra struktur skuriti energi.
Untuk sampai pada generasi selanjutan, tentu saja membutuhkan partisipasi pihak-pihak yang berkompeten. Lalu, siapa saja yang perlu dilibatkan dalam pengembangan energy ini? Policy maker, akademisi, industry, dan pemerhati competency dan investor. Berbagai pihak ini dapat dengan serius bekerjasama membuat satu langkah maju untuk mewujudkan transisi energy menuju generasi ke dua. Dalam hubungannya dengan kesadaran politik, caleg diharapkan mengerti akan keberadaan energy sebagai satu keperluan nasional yang penting, sehingg perlu penyegeraan sebuah perangkat yang diperlukan untuk itu. Sebelum terpilih sebagai wakil rakyat di lembaga legislative, tentu saja perlu memahami peta jalan energy saat ini, dan memahami idealisasi energy yang akan terjadi di masa mendatang. Artinya, caleg haruslah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang energy di masa mendatang. Berbekal pengetahuan inilah perumusan kebijakan negara atau payung hukum terkait dengan enegi dapat mengarah pada laju pengembangan tehnologi penghasil energy terkini dapat terealisasi dengan baik. Konsekwensi logis dari alur ini adalah bahwa caleg tidak semata-mata bekerja untuk mengegolkan diri menjadi anggota legislative, tetapi, juga harus mulai menyerap berbagai pengetahuan yang memadai akan energy guna melakukan langkah-langkah praktis manakala terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif.




Political Energy Conversion


Semangat Partai Politik Membuat Platform Energi

Semangat Partai Politik Membuat Platform Energi
Oleh : Ramli Sitanggang

Sudah cukup bagus semangat partai politik sekarang ini dalam membuat platform energy. Adapun demikian kiprah partai politik perlu ditindak lanjuti dengan pengetahuan yang memadai tentang penguasaan iptek dan sekaligus managemen Iptek yang memadai sehingga para anggota partai yang duduk di lembaga legislative dapat membuat kebijakan yang lebih mengena sasaran.

Akhir-akhir ini kita melihat berbagai media elektronik menampilkan profil SDM dan konsep-konsep elegan yang ditawarkan partai partai politik kepada masyarakat. Kesejahteraan dan kemakmuran menjadi tema-tema sentral, dan semangat membuat perubahan, peningkatan, serta pertumbuhan pada tema sentral cukuplah tinggi sangat tinggi. Tentu saja perubahan kondisi harus mencakup aspek energy yang merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedepan ini, agaknya sektor energy merupakan konteks yang sangat krusial dan menjadi platform partai politik. Mengapa? Pengalaman sudah membuktikan bahwa setiap kenaikan harga energy bahan bakar minyak misalnya, akan berimbas ke hampir seluruh aspek kehidupan. Partai politik perlu menyadari hal ini, bahwa peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran ini dapat dimulai dari sector energy.

Sayangnya bedah konsep ini kurang disentuh banyak pihak. Seringkali pengembangan iptek untuk meningkatkan kondisi energy nasional hanya menjadi isu penting manakala terjadi resesi global, krisis energy, atau ketika BBM sedang mengalami kenaikan harga. Sementara itu, ini adalah kunci yang membuka kran kesejahteraan masyarakat banyak, dan langsung dapat dirasakan masyarakat.

Berbicara soal platform energy berperingkat nasional haruslah memahami iptek konversi SDA juga. Konsep ini haruslah layak dari dimensi sosial budaya, ekonomi, kelayakan pertahanan dan keamanan. Mengapa? Platform energy ini harus selaras dengan kelayakan energy, sekuritas, dan ada jaminan monitoring bahwa program-program energy dapat dijalankan dengan aman. Jika tidak demikian kebijakan yang akan datang cenderung diragukan karena tidak memiliki basis yang kuat. Pada konteks ini peran partai politik sangat diperlukan dan bahkan partai politik haruslah memahami dari sisi yang lebih mendalam tentang platform energy itu. Memang ada partai politik yang menyebutkan bahwa peta jalan energy Indonesia selama ini perfek, tetapi pelaksanaannya tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Pandangan inipun perlu dikoreksi sebab peta jalan energy yang perfek adalah peta jalan yang terealisasi sesuai dengan rencana. Mengapa dikoreksi? Pertama, peta jalan energy nasional yang telah dibuat biayanya tentu lumayan tinggi. Kalau kemudian dikoreksi lagi biaya yang timbul akan tinggi pula dan sangat mungkin, jalur pembangunan iptek akan dimulai dari awal lagi. Ini akan jelas sebuah ketidak-majuan pendekatan iptek yang dijalankan. Dalam konteks ini, sebaiknya dimulai dari sekarang lembaga lembaga swasta, pemerintah maupun legislative perlu meningkatkan wawasan paling tidak Energy Management Basics, Leadership in Energy & Environmental dan Energy Conservation Action Plant. Kedua, peta jalan energy seharusnya yang aplikatif. Ini berarti peningkatkan penguasaannya dimasa yang akan datang, seperti adanya keaktifan lembaga partai politik dalam menyoroti hal tersebut, keaktifan sosialisasi pengembangan iptek energi yang dilakukan lembaga perguruan tinggi seperti halnya yang dilakukan FKK energy UPN” Veteran” Yogyakarta dan lembaga swasta lainnya. Atau masyarakat intelektual bidang energy ini sebaiknya rajin rajin memberikan perhatian dan motivasi pada wakil rakyat agar memiliki keilmuan yang cukup.

Apa yang perlu diperhatikan kepemimpinan ke depan? Belajar dari situasi tersebut, sangatlah penting membuat ketahanan energy nasional yang mantap. Pengamatan yang mendalam akan keberadaan sumber daya energy yang tersedia di alam raya Indonesia, perhatian yang istimewa harus dilakukan pada ketersediaan iptek yang berkenaan dengan konversi energy yang memadai hingga konversi energy yang benar-benar dapat dilaksanakan. Dengan membangun Iptek ini akan merangsang kemapanan kemampuan bangsa ini dalam mengatasi persoalan energy nasional.

Ada beberapa hal yang patut disimak dalam penguasaan iptek untuk menjalankan konsep konversi energy, Pertama, indikasi yang sering diungkapkan di media bahwa secara umum di Indonesia masih tertinggal, dan managemen iptek energy yang musti diperhatikan dalam hal ini tercipta kreasi dan inovasi dari SDM yang mampu menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi pengembangan energy nasional. Kedua, Pengalaman 2008 menunjukkan betapa pentingnya penyediaan energy ini dengan harga yang terjangkau untuk mendukung multisektor. Fakta telah memperlihatkan bahwa keberadaan energi mempengaruhi krisis ekonomi global, sehingga berbagai lembaga ikut berpartisipasi memburu teknologi untuk menerapkan konversi energy ini. Ini berarti penguasaan atas iptek energy merupakan tahap permulaan untuk keberhasilan di berbagai sector. Adapun demikian sector politik memegang peran yang utama, terutama bagi penyediaan payung hukum atau kebijakan yang diperlukan untuk mendukung konversi energy itu. Ketiga, ada tiga factor dari sudut ketersediaan yaitu energy pembangkit listrik, energy penggerak transportasi dan energy keperluan rumatangga masyarakat (migas dan listrik). Ketiga jenis energy ini sangat berhubungan erat. Jika salah satu komponen ini berubah, maka komponen lain pun akan mengalami perubahan. Ada korelasi (factor) yang sangat berarti, dan tiga poin tersebut merupakan segmentasi dari persoalan energy nasional. Artinya, pemecahan haruslah terfokus pada poin tersebut. Keempat, Kebijakan bidang energi dikeluarkan untuk mewujudkan penyediaan yang berkelanjutan (energy sustainability) ini. Kebijakan tersebut, mengarah memperluas akses pasokan energy yang terjangkau dengan memperhatikan seluruh sarana/prasarana yang diperlukan (energy security) dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Dengan konsep ini, dasar skenario rencana energi yang realistic yang akan dilakukan misalnya proyeksi kebutuhan (demand), pengembangan pembangkit listrik, membuat kesetimbangan energi yang mempertemukan kebutuhan dan pasokan (supply) berdasar prinsip market equilibrium. Sasaran scenario rencana tersebut perlu dipertajam mengarah pada pegoptimalan penggunaan bauran energi (diversifikasi), penghematan dan meningkatkan efisiensi energi (konservasi), menggunakan sumber energi yang sudah siap secara teknis maupun ekonomis serta ramah lingkungan.

Kedepannya, pemahaman bagi partai politik dan para calon legislatifnya haruslah memiliki pengetahuan tentang cakupan ini lebih mendalam, sehingga rumusan kebijakannya mendukung pengembangan konversi energi yang memang saat ini diperlukan masyarakat. Segmentasi penambahan wawasan tentang energi perlu kiranya diikuti oleh para stake holder dan para calon anggota legislatif dan terus menerus diikuti hingga mempunyai pengertian, pemahaman akan hal ini.


Political Energy Conversion


KEMANA HILANGNYA CAHAYA NEGERI KITA!

Kemana Hilangnya Cayaha Negeri Kita!
Oleh : Ramli Sitanggang

Sabang sampai Merauke, bukanlah sekadar satu rangkaian kata yang menunjuk letak geografis, tapi juga merupakan statement untuk menyatukan pluralitas kultural. Spiritualitas seperti ini, merupakan titik pijak bangsa untuk secara kontinyu berada di aras progresifitas yang beradab, modern dan memiliki tujuan besar yang diformulasikan berdasarkan kepentingan bersama. Pretensi terhadap kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan sosial, hampir boleh dipastikan dan diposisikan sebagai kehendak umum yang menjadi cita-cita bangsa besar ini. Dengan seperti itu, Indonesia berada dalam satu gerak langkah bersama dan berproses menuju ke arah cita-cita tersebut tanpa diskriminasi bagi warga negaranya. Konteks ini bergerak secara pasti mengarah atau dalam terminologi sosiologi ”evolusi” menuju kesejahteran itu. Idealisasi kesejahteraan menurut konteks itu, perlu ditumbuh-kembangkan dan secara kontinyu dilakukan pewacanaan cita-cita bangsa terhadap warga negara. Ini berarti pimpinan bangsa perlu secara intens mengumandangkan wacana dengan tema sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UUD. Media cetak dan elektronik seyogyanya dimanfaatkan lebih gencar menampilkan info tentang kesejahteraan dari pada info-info konflik. Tetapi, penayangan dan pewacanaan konflik dan sejenisnya, tentu tidak memberikan ruang bagi banyak orang untuk mengerti bagaimana membangun kejahteraan itu sendiri. Konsekwensinya adalah pemikiran tentang peningkatan kesejahteran terasa seperti mimpi yang jauh dari kenyataan, dan pada akhirnya, malah jauh dari meningkatkan kinerja untuk menyambut kehidupan yang lebih baik.

Spirit kolektif yang perlu ditempatkan sebagai basis pencapaian kesejahteraan itu, adalah patriotisme modern yang mengintegrasikan segenap unsur bangsa dengan penghargaan terhadap pluralitas kultural dalam satu bingkai yang besar. Berdasarkan spirit ini, tentu saja bangsa akan secara otomatis bergerak, berbuat, bertindak ke arah yang sama menuju idealisasi kesejahteran. Konsep spiritual patriotisme lama, tentu saja belum cukup mengatasi persoalan fenomena modern seperti saat ini, apalagi berkenaan dengan kehidupan bernegara yang sangat kompleks dengan pecahan masalah yang banyak itu.

Patriotisme kali ini (patriotisme modern) perlu dibedakan dengan patriotisme lama, yang mana patriotisme lama mengidealisasikan semangat perjuangan lama yang ditaruh sebagai manifestasi politik untuk meggerakkan segenap unsur bangsa dalam pengusiran terhadap penjajahan agar segera masuk ke pintu gerbang kemerdekaan, tetapi, patriotisme modern bersifat pengisian kemerdekaan secara kolektif menuju Indonesia sejahtera dan makmur. Berdasarkan spirit tersebut, setiap aspek kehidupan yang ada ruang kosong kemakmuran, hendaknya diisi sedemikian rupa untuk lebih merealisir semua konsep tentang kesejahteraan. Upaya mewujudkan cita-cita besar ini, perlu dilakukan langkah-langkah praktis yang bisa ditempuh Pemerintah sekarang maupun yang akan datang.

Spiritualitas kenegara-bangsan ini merupakan modal dasar mengayunkan langkah progresif. Langkah-langkah progresifitas ini merupakan bentuk keseriusan bangsa besar ini dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Langkah progresif ini mencakup penguatan bargaining position terhadap segenap kekuatan asing, di mana spirit patriotisme modern harus benar benar menjadi landasan dalam berpikir dan bertindak sehingga sertiap pihak asing yang melulu memberi tekanan-tekanan dari tidak bermanfaat bagi bangsa ini dapat ditangkis.

UPN”Veteran” dalam ulang tahun ke 50 atau ulang tahun emas, telah melakukan berbagai kegiatan yang berdasarkan pada semangat patriotisme untuk secara terus menerus menerus mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan rakyat banyak. Seperti kegiatan seminar dengan kata kunci strategi ketahanan, energi, pangan, ekonomi dan lain lainnya dalam rangka menyongsong Indonesia makmur, sebenarnya merupakan kiprah untuk mewujudkan cita-cita bangsa lewat ilmu pengetahuan. Setiap hasil dari kajian ilmiah yang telah dilakukan dipandang perlu untuk disebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga dapat diterapkan dilapangan.

Tentu saja konteks masyarakat luas ini mencakup Sabang sampai dengan Merauke, yang kesemuanya memiliki 17.499 ribu pulau dan lautan luas yang letaknya di antara 6° Lintang Selatan dan 11° Lintang Utara merupakan segmen penyebaran ilmu pengetahuan yang telah diformulasikan menjadi ilmu pengetahuan terapan. Seperti keilmuan di bidang energi energi matahari semacam misalnya, tentu dapat disebarkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Energi matahari ini merupakan modal yang besar dengan biasa sedikit untuk sampai pada pengembangan sumber energi, khususnya energy listrik surya. Kondisi geografis seperti Indonesia ini juga sangat layak dikembangkan keilmuan terapan untuk memanfaatkan pola angin yang berprospek untuk pengembangan Energi Listrik Angin (Bayu). Demikian pula potensi kelautan sangat perlu dijadikan modal guna menciptakan sumber energi listrik samudera. Ini tidak luput dari potensi yang dimiliki bangsa ini seperti sungai-sungai yang terbentang dari utara menuju selatan, dan barat menuju timur, dan sebaliknya. Sungai-sungai ini dapat dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan kelistrikan dengan membuat pembangkit energy listrik.

Kesemua sumber energy listrik itu dapat digunakan untuk energy yang diperlukan masyarakat. Apalagi dengan rekayasa teknologi sekarang ini boleh diarahkan kepada menciptakan energi alternatif atau bahan bakar alternative yang terbarukan guna keperluan transportasi. Limpahan energi surya hampir sepanjang tahun serta kecukupan air memberikan jaminan terjadinya proses fotosintesa atau asimilasi untuk produksi biomassa yang dapat dijadikan sebagai modal dasar dalam pengembangan teknologi energy biomassa di Indonesia. Selain itu, Indonesia sebagai negara tropis memiliki daratan dan lautan yang cukup luas, dan potensial menghasilkan dan mengembangkan berbagai jenis tumbuhan hayati yang dapat dimanfaatkan dengan biaya yang murah untuk membuat sistim penghasil energy terbarukan.

Hal terserbut masih ditambah kekayaan Indonesia yang berlimpah ruah seperti sumber energy seperti batu bara, gas, minyak bumi, panas bumi dan bahan nuklir uranium dan thorium yang dapat dibuat suatu sistim pembangkit energy terbarukan Indonesia untuk keperluan industry bersekala nasional. Semua sumber sumber energy ini secara geografis dapat dikelola menjadi industry energy listrik dan sekaligus dikelola menjadi Sistim Eko-energi zat air yaitu model ekosistim yang intergrited yang menghasilkan tenaga listrik untuk menguraikan air menjadi bahan bakar gas hydrogen sebagai bahan bakar transportasi pada Stasiun stasiun Pengisian Gas Hidrogen (SPH) pengganti SPBU yang sekarang ini.

Dengan konsep ini, jika di suatu kawasan terpencil sekalipun, kalau ada aliran angin, air dan sinar matahari maka dapat memenyediakan bahan bakar untuk transportasi dengan berkelanjutan dan terjangkau sepanjang masa. Ada beberapa keunggulan dengan tinjauan ini, pertama, tentu saja minyak fosil atau BBM yang dimiliki tidak lagi dipandang sebagai sumber pembangkit listrik utama, melainkan dapat digantikan dengan sumber energi yang terbarukan, meskipun dilakukan secara bertahap. Keunggulan ke dua, sumber energi terbarukan lebih ramah lingkungan dan sangat bersahabat dengan lingkungan sekitar. Hampir diseluruh dunia, terutama Negara maju, memilih bahan bakar transportasi berbasis hydrogen yang sangat ramah dengan lingkungan, dan tidak bervolusi untuk jangka panjang.

Potensi alam Indonesia yang berlimpah ruah, menjadi satu hal yang sangat mendukung kesuksesan penanganan persoalan energi nasional. Konsepsi pertanian daratan yang tropis yang mengalami 2 musim menjadi keadaan yang strategi penghasil pangan dan obat obatan yang beragam yang dapat dikelola secara terpadu selain menghasilkan pangan dan obat obatan yang sudah teruji sejak dahulu terutama rempah rempah juga dapat menghasilkan energi.

Penyelesaian alternatif ini perlu program nasional yang mampu menetes ke bawah di mana masyarakat luas dapat ikut serta dalam pengelolaan sumberdaya alam Indonesia yang kaya raya ini. Tentu saja pencapaiannya ditegaskan pada sebuah ada peta jalan (roadmap) yang mengakomodir Technology Foresight (peramalan teknologi) untuk pencapaian keberhasilannya.


Political Energy Conversion