Trobosan Mengganti BBM Dengan Bahan Bakar Lebih Murah
Oleh : Ramli Sitanggang
Kenaikan BBM, itu sudah terjadi. Persoalan selanjutnya, adalah mencari dan menemukan teknologi pengganti mesin BBM. Ini perlu disegerakan, sebab jumlah minyak bumi makin menipis. Mau tidak mau, harus ada trobosan baru. Terobosan yang cerdas.
Semua kegiatan hampir selalu berbasis energi BBM. Meskipun ada basis lainnya seperti jalan kaki, batubara dan nuklir, misalnya. Tidaklah mengherankan, bahwa harga BBM ini terus menerus menaik saja. Para pakar sudah tau hal ini. Itu betul adanya, karena minyak fosil habis disedot. Pada saat yang sama, hukum permintaan berlaku. Ini wajar. Coba bayangkan, permintaan semakin tinggi dan stok minyak fosil semakin habis, maka apa yang terjadi? Lonjakan harga tak terelakan.
Masihkah sektor BBM ini tetap menjadi basis utama bahan bakar nasional di tahun-tahun berikutnya? Jawabnya jelas, yaitu “Tidak”. Bertumpu pada BBM sebagai basis utama, jelas tidak efisien. Ini tampak seperti halnya seekor ikan terjun bebas ke daratan. Suatu saat akan mengalami kemandegan distribusi BBM.
Langkah awal trobosan ini adalah pengadaan teknologi energy alternatif. Ini penting. Ini harus dilakukan seperti halnya mengembalikan ikan masuk ke dalam air lagi. Kenaikan BBM kali ini, adalah momentum tepat pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif.
Idenya begini. Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar alternatif, dan ke dua, teknologi energi dengan bahan bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan. Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM. Ini berarti “pengadaan teknologi itu”.
Karena kondisi ini bukan hanya untuk Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus segera diadakan dengan perhitungan super cermat.
Semua kegiatan hampir selalu berbasis energi BBM. Meskipun ada basis lainnya seperti jalan kaki, batubara dan nuklir, misalnya. Tidaklah mengherankan, bahwa harga BBM ini terus menerus menaik saja. Para pakar sudah tau hal ini. Itu betul adanya, karena minyak fosil habis disedot. Pada saat yang sama, hukum permintaan berlaku. Ini wajar. Coba bayangkan, permintaan semakin tinggi dan stok minyak fosil semakin habis, maka apa yang terjadi? Lonjakan harga tak terelakan.
Masihkah sektor BBM ini tetap menjadi basis utama bahan bakar nasional di tahun-tahun berikutnya? Jawabnya jelas, yaitu “Tidak”. Bertumpu pada BBM sebagai basis utama, jelas tidak efisien. Ini tampak seperti halnya seekor ikan terjun bebas ke daratan. Suatu saat akan mengalami kemandegan distribusi BBM.
Langkah awal trobosan ini adalah pengadaan teknologi energy alternatif. Ini penting. Ini harus dilakukan seperti halnya mengembalikan ikan masuk ke dalam air lagi. Kenaikan BBM kali ini, adalah momentum tepat pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif.
Idenya begini. Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar alternatif, dan ke dua, teknologi energi dengan bahan bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan. Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM. Ini berarti “pengadaan teknologi itu”.
Karena kondisi ini bukan hanya untuk Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus segera diadakan dengan perhitungan super cermat.
Berdasarkan dari beberapa negara Eropah dan Amerika yang sudah membuat jalur roadmap energy 2010-2030 penyediaan bahan bakar transportasi pada jangka menegah Indonesia yang sangat praktis dan applikatif adalah peningkatan kapasitas tenaga pembangkit listrik untuk tenaga pengilangan metanol dan hidrogen dari air seperti halnya juga proses pengilangan BBM memerlukan tenaga listrik pada jangka menengah. Dalam hal ini diperkirakan tenaga yang diperlukan untuk pengilangan BBM yang sekarang ini akan lebih besar berbanding tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif metanol dan Hidrogen. Tentu dari sisi ini, bahan bakar akan lebih murah dari BBM sekarang ini. Selain itu bahan bakar ini pada harga yang sama dengan BBM maka jarak tempuhnya lebih jauh. Artinya, penyediaan bahan bakar alternatif jenis methanol dan hidrogen ini jauh lebih murah sehingga menjadi solusi yang ideal di indonesia. Alasan yang sangat kuat untuk mendukungnya sebagai opsi pengganti BBM bahwa masa sekarang kebutuhan BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari merupakan jumlah yang terlalu banyak dan mahal untuk mesin mesin transportasi. Alasan kedua, permintaan minyak fosil untuk industry kimia semakin meningkat dipasar global dan hal ini terjadi sampai minyak bumi menipis. Tentu, permainan protection global Negara maju terhadap minyak fosil akan semakin seru dan secara otomatis pula akan diikuti proteksi terhadap teknologi bahan bakar alternatif seperti yang dilakukan Amerika, Eropah, Cina dan bahkan sebagian negara-negara di Amerika Latin. Ini sangat logis sebab metode ini masih cukup cerdas meraup dolar dan patut diwaspadai mulai sekarang dengan gerakan ketahanan energy seperti yang dilakukan UPN Veteran Yogyakarta akhir akhir ini. Alasan yang ketiga tentunya Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi SDA yang sangat berlimpah untuk bahan bakar alternatif sedini mungkin dapat mengambil inisitif menjadi produsen bahan bakar alternatif di dunia internasional dalam masa jangka menengah dan panjang. Hal ini sudah sukses dilakukan Canada mengeksport Hidrogennya ke Amerika, eropah dan Jepang. Adalagi alasan yang paling menarik yaitu ikatan kerjasama yang sangat kuat dari 120 negara yang berpusat di inggris untuk melakukan pengembangan energI alternatif terutama hydrogen yang memacu negara maju untuk segera membuat infrastrukturnya. Dengan demikian, mau tak mau Indonesia harus mengikutinya untuk memasang kuda kuda yang kuat. Lebih lanjut lagi, peralihan energi jangka menengah ini kearah jangka panjang sampai tahun 2030, fenomena negara negara maju membangun teknologi penghasil bahan bakar alternatif Hidrogen berbasis nuklir sudah cukup jelas. Konsepnya sangat sederhana, energi listrik yang melimpah dengan harga murah digunakan untuk pembuatan bahan bakar alternatif hidrogen dari air. Tentu saja hidrogen ini sangat murah. Sedangkan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan energi dari gas Hidrogen ini dengan modifikasi teknologi mesin BBM menjadi mesin LPG diteruskan menjadi mesin Hidrogen atau dengan teknologi Fuel Cell (sel bahan bakar). Dalam hal ini, jangan dibayangkan Hidrogen berbahaya seperti bom hidrogen sebab dari segi resiko kebakaran lebih besar resikonya BBM dan LPG. Selain itu tidak ada polusi, mesin hydrogen atau sel bahan bakar hanya mengahasilkan air kembali. Khusus untuk sel bahan bakar, air yang dihasilkan tidak mengandung mineral yang dapat ditampung untuk keperluan membuat hydrogen.
Adapun SEL BAHAN BAKAR (Fuel Cell) adalah teknologi Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar alternatif. Cirinya seperti baterai, perbedaannya kalau baterai menggunakan listrik tetapi untuk SEL BAHAN BAKAR menggunakan gas Hydrogen atau Metanol dengan udara. Teknologi Fuel Cell sebagai pembangkit listrik ada 4 kelompok besar iaitu teknologi pertama menggunakan gas hidrogen yang biasanya untuk mengganti mesin bus, mobil, motor, dan sebagainya. Teknologi kedua menggunakan metanol yang lajim untuk pembangkit tenaga listrik kecil seperti mainan anak anak, handphone, laptop dan sebagainya. Kemudian Teknologi ketiga yaitu teknologi pembangkit listrik dengan ukuran mikro watt yang digunakan untuk alat-alat sensor. Sedangkan teknologi ke empat menggunakan gas hidrogen untuk pembangkit listrik dengan kapasitas besar misalnya 10 MW dan seterusnya. Di Asean teknologi ini sudah mulai pesat perkembangnya walaupun masih mahal karena masih pada peringkat prestise dan permainan harga material tetapi dengan penguasaan teknologi ini di jepang, cina dan korea lambat laun proteksi teknologi ini dari negara amerika dan eropah akan memperhitungkannya, sayang 1000 kali sayang di Indonesia baru beberapa orang pakar untuk teknologi ini. Padahal ini teknologi alternatif yang tidak dapat dibendung kehadirannya. Bahkan dinegara jiran sudah diperkenalkan dalam bentuk mobil dan berbagai produk termasuk Stasiun pengisian Hidrogen (Bahan bakar gas hidrogen yang berasal dari air) yang sangat mirip dengan SPBU (lihat gambar teratas). Coba rasakan, betapa hebatnya berkendaran mobil dengan bahan bakar yang murah ini. Orang akan bebas perasaan dari kekawatiran kanaikan 28,7 % BBM.
Adapun SEL BAHAN BAKAR (Fuel Cell) adalah teknologi Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar alternatif. Cirinya seperti baterai, perbedaannya kalau baterai menggunakan listrik tetapi untuk SEL BAHAN BAKAR menggunakan gas Hydrogen atau Metanol dengan udara. Teknologi Fuel Cell sebagai pembangkit listrik ada 4 kelompok besar iaitu teknologi pertama menggunakan gas hidrogen yang biasanya untuk mengganti mesin bus, mobil, motor, dan sebagainya. Teknologi kedua menggunakan metanol yang lajim untuk pembangkit tenaga listrik kecil seperti mainan anak anak, handphone, laptop dan sebagainya. Kemudian Teknologi ketiga yaitu teknologi pembangkit listrik dengan ukuran mikro watt yang digunakan untuk alat-alat sensor. Sedangkan teknologi ke empat menggunakan gas hidrogen untuk pembangkit listrik dengan kapasitas besar misalnya 10 MW dan seterusnya. Di Asean teknologi ini sudah mulai pesat perkembangnya walaupun masih mahal karena masih pada peringkat prestise dan permainan harga material tetapi dengan penguasaan teknologi ini di jepang, cina dan korea lambat laun proteksi teknologi ini dari negara amerika dan eropah akan memperhitungkannya, sayang 1000 kali sayang di Indonesia baru beberapa orang pakar untuk teknologi ini. Padahal ini teknologi alternatif yang tidak dapat dibendung kehadirannya. Bahkan dinegara jiran sudah diperkenalkan dalam bentuk mobil dan berbagai produk termasuk Stasiun pengisian Hidrogen (Bahan bakar gas hidrogen yang berasal dari air) yang sangat mirip dengan SPBU (lihat gambar teratas). Coba rasakan, betapa hebatnya berkendaran mobil dengan bahan bakar yang murah ini. Orang akan bebas perasaan dari kekawatiran kanaikan 28,7 % BBM.
Sumber : Info Kampus "UPN" Veteran
Political Energy Conversion
